Pada diskusinya Teguh menyatakan agar industry media cetak khususnya untuk dapat bertahan dapat dilakukan dengan membuat saluran baru melalui media online, selain itu juga dapat melalui E-Papper, selanjutnya melalui media social agar dapat menaikan engagement dan ini di rasa penting untuk bertahan dalam industry media di era digital.
Teguh menambahkan hingga januari 2023 terdapat 1.711 prusahaan media yang terverifikasi dewan pers, dari jumlah tersebut 902 berada pada ranah digital. Hal ini berdampak dari persaingan dalam industry media dan ini menyebabkan kualitas berita yang menurun, serta muncul banyaknya plagiat tanpa adanya konfirmasi.
Hal senada juga ditutrkan oleh Husnan Nurjuman, mengenai trend dan perkembangan media di era digital.
Dalam disukusinya husnan menyatakan saat ini setiap orang dapat memiliki medianya masing-masing, seperti tiktok, Instagram youtube, mereka berlomba lomba mempromosikan brandingnya secara personal kepada khalayak.
Baca juga :
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bekasi Apresiasi Pengembangan Pariwisata
Karena trend media saat ini bersifat personal bukan Lembaga atau korporasi.
Dalam kesempatan diskusi kali ini turut juga di resmikan Pusat Kajian Digital Media Komunikasi Untirta, dimana pusat kajian ini memiliki Cita-cita untuk turut berkontribusi dalam membangun hubungan antara komunitas akademik dengan publik dalam khasanah komunikasi.
Visi DG Comms sendiri adalah menjadi pusat penelitian, pusat data, pelatihan, dan pemberdayaan komunikasi media digital di Indonesia.
Puspita Asri Praceka yang dikukuhkan sebagai ketua kajian memaparkan DG Comms akan beruang lingkup pada pengolahan database elektronik dan digital, diskusi, seminar dan konfrensi serta jasa konsultasi dibidang komunikasi digital.