Pelarian Tumbal Pesugihan Raja Demit (Tutur Gaib)

Info Daerah - Minggu, 10 Oktober 2021 - 23:26 WIB
Pelarian Tumbal Pesugihan Raja Demit (Tutur Gaib)
Istimewa ()
Penulis
|
Editor

INFODAERAH.COM, FIKSI – Kisah ini terjadi pada tahun 1840-an. Berawal dari seorang anak dari keluarga kaya yang keluarganya mati mengenaskan. Hanya Rakata seorang yang selamat pada peristiwa yang mengenaskan itu.

Juragan Arda, orang terkaya di Banten bagian Selatan, tewas dengan tubuh penuh cakaran. Batang lehernya hampir putus dengan tenggorokan yang tercabik. Ususnya terburai bercampur genangan darah.

Sedangkan Nyai Siti, ibu, tewas dengan kepala terbeban di kamar mandi dengan pakaian yang tercabik-cabik.

Kakak perempuan Rakata, Neng Safitri juga bernasib yang tak kurang mengenaskan. Tubuh perawan itu ditemukan tetangga seminggu sejak kejadian itu dari bau busuk yang menyengat. Safitri tewas dengan bekas cakaran mengerikan tak beda dengan ayahnya.

BACA JUGA ;

Hanya Rakata yang selamat, karena saat kejadian, Bocah itu sedang di surau, menginap bersama teman teman sebayanya.

Rakata yang saat itu baru berusia 12 tahun pun meledak tangisnya saat pulang ke rumah dua orangtuanya sudah tewas, sedangkan kakak perempuannya, Safitri menghilang.

Desas desus di Kampung itu, Juragan Arda dan keluarganya dibunuh mahluk gaib karena pesugihan. Ada wadal atau tumbal yang tidak bisa dipenuhi sehingga mahluk gaib itu murka dan membantai keluarganya.

Lepas tahlilan 7 hari, Rakata masih belum bisa melepas kesedihan itu.

Adik ayahnya, Basir bersama seorang tetua kampung memberitahu Rakata agar segera meninggalkan kampung itu, karena mahluk gaib itu mungkin akan datang lagi.

Terlebih lagi kata tetua itu, tumbal pesugihan yang disepakati mahluk gaib itu sebenarnya adalah Rakata.

“Aku dulu yang mengantar ayahmu mencari pesugihan itu. Aku juga tau perjanjian ayahmu dengan Raja Demit Kawidaran di Gunung Kelud. Sebaiknya kau pergi dari sini anakku, selamatkan diri mu,” kata Paman Basir.

Paman Basir kemudian menuturkan, dia dan ayahnya dulu turun temurun dari kakeknya merupakan keluarga terpandang dengan harta berlimpah.

Namun karena dianggap tidak patuh dengan aturan pemerintah Hindia Belanda, harta benda kakek mereka dirampas oleh pemerintah Belanda. Bahkan kakeknya pun dipenjarakan.

Basir dan Arda muda pun hidup terlunta lunta. Tak ada jarta yang tersisa. Beberapa bidang sawah dan kebun yang tak diambil pemerintah kolonial juga tak bisa diambil lagi karena dikuasai oleh jawara-jawara anteknya Belanda.

Tak ada yang berani membantu keluarga mereka, karena semua orang yang dikenal takut kena imbas bila bantu keluarga Arda.

Kakak beradik ini kemudian terpaksa keluar desa untuk mencari pekerjaan walau itu sebatas pekerjaan kasar, mencangkul atau kuli panggul.

Akhirnya Arda pun menemukan jodohnya, Siti, gadis yang dikenal saat kuli mencangkul di sawah tetangga desa Hubungan mereka awalnya mendapat tentangan dari keluarga Siti. Namun lama lama, orangtua Siti pun menyerah karena anaknya begitu mencintai Arda.

Usai menikah, Juragan Danang , ayahnya Siti tak jua melunak. Tak sedikitpun dia menganggap Arda sebagai menantunya. Arda trap pada status semula, sebagai kuli cangkul di keluarga kaya itu.

Mereka yang sudah mulai punya anak, tak boleh tinggal lagi di rumah besar itu. Arda dan keluarganya tinggal disebuah gubuk yang mereka buat di lahan kebun Juragan Danang. Basri juga tinggal bersama mereka.

Karena tak kuat menahan demgan kemiskinannya, Arda pun berniat mencari pesugihan ke Gunung Kelud. Arda permah mendengar tentang oesugihan Gunung Kelud dari ayahnya. Ternyata kakeknya dulu juga pernah mencari pesugihan di Gunung yang angker itu

Singkat kata, Arda dan Basri pergi ke Gunung Kelud dan melakukan ritual dengan bimbingan seorang dukun. Arda pun dipertemukan dengan Raja Demit Kawidaran dan membuat perjanjian untuk menyerahkan anak laki-lakinya kelak menjelang akil baligh Saat perjanjian itu, Rakata masih bayi yang baru bisa merangkak.

Tak menghitung bulan, Arda langsung menjadi kaya. Uang simpanannya yang digunakan untuk jualan kayu bakar ternyata laku keras. Mulailah Arda dikenal sebagai saudagar kayu.

Kekayaan Arda melimpah ruah. Sawahnya tak terhitung lagi luasnya. Hewan ternak yang dimilikinya tak lagi muat dititipkan ke petani petani di desanya.

Setiap musim panen, beras beras yang dimiliki Juragan Arda dibeli tentara kolonial Belanda dengan harga yang bagus. Hampir semua kebutuhan beras tentara di Pulau Jawa dibeli pemerintah hindia Belanda dari Juragan Arda.

Sampai terjadilah peristiwa naas itu. Raja Demit Kawidaran mengamuk. Tumbal pesugihan tak kunjung diserahkan. Murka Raja Demit yang akhirnya menghabisi keluarga Juragan Arda.

Mereka berharap 10 tahun lagi Raja Demit akan melupakan peristiwa itu dan Rakata bisa kembali pulang

Paman Basir juga berjanji akan menjaga semua peninggalan ayahnya.

Bocah Rakata pun pergi dari rumah dengan bekal seadanya. Kakinya melangkah gontai dengan rasa sedih dan juga takut bukan kepalang.

Kampung demi kampung dilaluinya. Tubuh kecilnya semakin kurus tinggal kulit berbalut tulang. Bekal uangnya sudah sejak beberapa minggu lalu habis.

Untuk melawan lapar, dia hanya berharap ada yang kasihan dan memberi nasi. Tapi Rakata tak pernah mau meminta. Ketika ada warung nasi, Rakata hanya duduk di halaman warung itu. Menunggu orang yang memberi makan.

Malam hari, Rakata mencari tempat bernaung. Kadang di emperan warung, kadang di emperan Musholla.

Perjalanan Rakata semakin jauh dari kampungnya ke arah barat. Gunung Karang nampak menjulang gagah.

Entah apa yang merasuki pikiran Rakata, dia ingin naik gunung itu, dan berteriak sekeras kerasnya.

Langkah kaki Rakata semakin pasti mengarah kaki Gunung Karang. Perkampungan di bawah gunung itu sudah dilaluinya. Tinggal hutan-hutan yang mulai menghadang langkah kakinya.

Jalan setapak, jalan pencari kayu dan pemburu menuju puncak gunung diikutinya. Hari pun mulai gelap.

Samar-samar Rakata melihat segerombolan harimau di depannya. Ada sembilan ekor harimau. Ya, harimau yang seumur hidup baru dilihatnya, ada sembilan.

“Ajalku sudah dekat, harimau ini akan menerkam,” batin Rakata menggumam ketakutan.

Namun kakinya juga letih mendaki. Tak ada kuasa untuk berbalik badan dan lari. Tubuhnya seperti kaku memandangi kumpulan harimau yang semua matanya berkilat memandangnya.

Tiba-tiba batinnya seperti ada keberanian. Entah mengapa dia seperti mengenali harimau-harimau itu dan tak takut sekalipun.

Salah satu harimau yang punggungnya ada corak putih dan tubuh paling besar menghampirinya perlahan. Taring-taring besar harimau itu seperti belati.

Tubuh Rakata tak bergerak. Batinnya pasrah, kalau sudah ajalku ya sudahlah, begitu batinnya bergumam.

Harimau itu hanya satu langkah lagi didepannya, semakin mendekat, hingga kepala harimau hampir menyentuhnya.

Lidah harimau itu menjulur, menjilat tangan Rakata.
“Pangersa sudah datang,” tiba-tiba harimau itu bersuara.
Rakata kaget bukan kepalang, suara siapa itu, harimau ini kah yang bersuara ?

Tubuh Rakata pun lunglai, kakinya tak ada tenaga, ambruk dengan kepala menunduk.

Harimau itu terus menjilati tubuh Rakata. Beberapa harimau yang lain juga ikut menghampirinya. Mereka juga ikut menjilati bagian bagian tubuh bocah yang hanya tersisa tulang dilapisi kulit itu.

Kesadaran Rakata pun hilang.

Saat terbangun, dirinya sudah berada di atas ranjang bambu dalam sebuah kamar sempit berdinding bilik bambu. Matanya menerawang ke sekitar kamar sempit itu.

“Dimana aku, dimana harimau yang memakanku,” kata Rakata dalam hati.

Masih dalam kebingungannya, seorang pria tua masuk kamar dan menyodorkan segala air dan sepiring singkong bertabur kelapa.

“Makan dulu, kamu sakit Pangersa,” kata pria tua yang sudah renta itu.

Dengan canggung Rakata meraih singkong itu . Mulutnya mulai mengunyah. Rasa lapar yang tak tertahan membuat Rakata tak memperhatikan kehadiran seorang pria tegap yang masuk ke kamar itu.

” Sudah sehat lagi kan Kiai ?” kata pria itu dengan kepala menunduk segan kepada kakek tua tadi.

“Sudah Ki Lesmana, Alhamdulillah, sebentar lagi juga pulih. Kalian boleh turun, dan jaga di bawah. Biar aku yang mengurus Pangersa,” kata kakek tadi.

Ki Lesmana pun berlalu diikuti 8 temanya. Tubuh manusia mereka kembali menjadi harimau. Tubuh mereka menghilang rerimbunan pohon, kembali turun ke kaki gunung Karang.

Usai menghabiskan singkongnya, Kakek tua itu duduk didekat Rakata.
“Pangersa sekarang tinggal di sini. Aki namanya Ki Gantang. Tinggal di sini sendirian. Pangresa jadi cucu aki di sini. Belajar sholat, belajar ngaji, makan seadanya,” kata Ki Gantang tadi.

“Pangersa harus sabar, doakan bapak dan ibu agar tenang di alamnya,” kata Ki Gantang lagi.

Rakata pun mengangguk-angguk. Dia juga tak tau mesti kemana lagi.

Dari perbincangan mereka selanjutnya, Ki Gantang ternyata ulama besar yang mengasingkan diri dari keramaian.

Sejak saat itu, Rakata digembleng ilmu keagamaan dan kebatinan. Dia begitu tekun mempelajari ilmu agama.

Al Qur’an, Hadits, Tafsir dan kitab-kirab Kuning lainnya, adalah makanan sehari-sehari Rakata, dari muda hingga menjelang dewasa.

(BERSAMBUNG)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X