Ulama Perempuan: Jangan Khawatir, yang Mendukung RUU TPKS Lebih Banyak

      Info Daerah - 14 Januari 2022
      Ulama Perempuan: Jangan Khawatir, yang Mendukung RUU TPKS Lebih Banyak
      Istimewa

      INFODAERAH.COM, Jakarta – Anggota Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI, Nur Rofiah dalam pertemuan dengan Ketua DPR RI Puan Maharani,

      bersama tokoh perempuan lain, menyebut penolakan terkait Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) atas nama agama Islam hanya bersifat parsial.

      Menurutnya umat Islam yang mendukung lebih banyak dari pada yang menolak RUU inisiatif DPR tersebut.

      BACA JUGA ;

      Puan Maharani Pastikan DPR Akan Segera Bahas RUU TPKS Dengan Pemerintah

      Dihari Jadi PDIP ke 49, Puan Maharani Bilang Begini

      Puan Maharani Imbau Anggota Legislatif PDIP Maksimalkan Pelaksanaan Fungsi Dewan untuk Kesejahteraan Rakyat

      Puan Maharani Tegaskan Komitmen DPR RI Mendorong Percepatan Pengesahan RUU TPKS

      Puan Maharani Tegaskan Komitmen DPR RI Mendorong Percepatan Pengesahan RUU TPKS

      Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-76, Ketua DPR RI Puan Maharani: Momentum Tepat Memperbarui Semangat Kemenag Mengayomi Keragaman Umat

      Puan Maharani: “Semangat dan daya juang para pemain menunjukkan timnas memiliki masa depan yang cerah”

      Puan Minta Pemerintah Gratiskan Vaksin Booster Bagi Masyarakat

      Nur mengaku telah menginisiasi istighasah virtual yang di ikuti ratusan pesantren untuk mendoakan agar RUU TPKS segera di sahkan.

      “Jadi kalau sampai ada yang menolak RUU TPKS menjadi Undang-Undang atas nama Islam jangan khawatir Mbak Puan,

      karena yang mendukung jauh lebih banyak,” ujar Nur Rabu 12 Januari 2022.

      Bagi Nur bagaimana seseorang di lahirkan adalah hal yang tidak bisa di pilih, termasuk di lahirkan sebagai perempuan.

      Namun perempuan kerap mendapat perlakuan yang tidak adil, karena hal yang berada di luar kuasa mereka.

      “Perempuan sangat rentan mengalami ketidakadilan. Misalnya stigmatisasi, marginalisasi, suberinasi, kekerasan karena hanya ‘menjadi’ perempuan,” tuturnya.

      Halaman:
      1
      2

      Tinggalkan Komentar