INFODAERAH.COM. KAB.LEBAK – Menjelang azan Magrib, suasana di Jalan Multatuli, Kabupaten Lebak, berubah menjadi lebih semarak. Warga datang silih berganti, sebagian masih mengenakan seragam kerja, sebagian lagi menggandeng anaknya. Aroma gorengan hangat dan manisnya kue tradisional menyeruak di antara deretan lapak sederhana yang berdiri di tepi jalan.
Ramadan tidak hanya menghadirkan waktu berbuka, tetapi juga menghadirkan cerita tentang harapan dan kebersamaan. Di tempat inilah, jajanan sederhana seperti jojorong dan gorengan menjadi bagian dari tradisi yang terus dijaga.
Salah satu pedagang musiman, Sovi, rutin membuka lapak setiap Ramadan. Ia mulai berjualan pukul 12.30 WIB hingga menjelang Magrib. Baginya, Ramadan selalu membawa rezeki tambahan. “Setiap Ramadan saja jualannya. Alhamdulillah lumayan,” ujarnya.
Di lapaknya, Sovi menata kolek, jojorong, papasung, papais, bugis, hingga pais burih. Warna-warni kue yang dibungkus daun pisang tersusun rapi dan menarik perhatian pembeli. Jojorong menjadi yang paling cepat habis.
“Kalau di Lebak, jojorong itu ciri khasnya. Papasung dan papais juga banyak yang cari. Kalau gorengan hampir setiap hari selalu dicari,” katanya.
Selain kue tradisional, ia menjual bakwan, sosis solo, pastel isi bihun wortel dan kentang, risol mayor, risol sayur, buras isi wortel kentang maupun oncom, hingga sate bandeng. Harga jajanan berkisar Rp5.000 hingga Rp23.000 per item, bergantung jenis dan ukuran.
Tradisi Ringan Sebelum Hidangan Utama
Antusiasme pembeli terlihat setiap sore. Safitri, warga Cimanggu, hampir setiap hari mampir ke lapak tersebut. Ia datang bersama teman atau keluarga untuk membeli takjil yang akan disantap di rumah. “Biasanya kita nggak langsung makan berat-berat. Makan yang ringan dulu. Saya sering beli jojorong sama gorengan, kadang juga dimsum buat buka puasa,” ujarnya.
Bagi Safitri, memilih makanan ringan sebelum menyantap hidangan utama sudah menjadi kebiasaan agar perut tidak kaget setelah seharian berpuasa. Namun lebih dari itu, momen berburu takjil juga menjadi waktu berkumpul yang sederhana tetapi bermakna.
Ramainya pembeli setiap sore di Jalan Multatuli menunjukkan tradisi berburu takjil sekaligus menjaga kuliner khas daerah tetap hidup di tengah masyarakat Lebak selama bulan suci Ramadan. Di antara hiruk-pikuk itu, jojorong dan gorengan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan pengikat cerita tentang rasa, kenangan, dan kebersamaan. (Red)