INFODAERAH.COM, BEKASI – Di balik ketegasan penegakan hukum di Kota Patriot, terdapat sosok perempuan tangguh yang menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Bekasi, Dr. Sulvia Triana Hapsari, S.H., M.Hum. Dalam momentum peringatan Hari Kartini, Dr. Sulvia berbagi pandangan mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai emansipasi menjadi fondasi kepemimpinannya di korps Adhyaksa. Selasa (21/4/26)
Integritas dan Keberanian: Warisan Sejati Kartini
Saat ditanya mengenai nilai perjuangan R.A. Kartini yang paling ia pegang dalam memimpin, Dr. Sulvia menegaskan bahwa keberanian untuk bermimpi dan berintegritas adalah kunci.
“Bagi saya, nilai Kartini yang paling relevan saat memimpin Kejari Kota Bekasi adalah keberanian untuk mendobrak stigma. Kartini berjuang agar perempuan memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan. Di kejaksaan, saya memegang nilai bahwa kecerdasan yang dibalut dengan integritas moral adalah harga mati. Seorang pemimpin perempuan harus mampu menunjukkan bahwa ketegasan hukum bisa berjalan beriringan dengan hati nurani,” ujarnya.
Rekam Jejak: Dari Lebak hingga Kejagung
Perjalanan karier Dr. Sulvia tidaklah instan. Sebelum menakhodai Kejari Kota Bekasi, ia telah melanglang buana bertugas di berbagai wilayah, mulai dari Kejari Lebak, Mojokerto, hingga mengabdi di Kejaksaan Agung (Kejagung). Meniti karier struktural sebagai jaksa perempuan diakuinya memiliki tantangan tersendiri.
“Tantangan terbesar bukan hanya soal pekerjaan teknis hukum, tapi menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan peran sebagai perempuan. Di setiap daerah tugas, seperti Lebak dan Mojokerto, tantangannya berbeda-beda. Namun, saya selalu percaya bahwa profesionalisme tidak mengenal gender. Selama kita bekerja dengan dedikasi tinggi, kepercayaan itu akan datang dengan sendirinya,” kenang Dr. Sulvia mengenai perjalanannya menembus dominasi struktural.
Pesan “Habis Gelap Terbitlah Terang” untuk Insan Adhyaksa
Menutup perbincangan, Dr. Sulvia memberikan pesan kuat bagi para jaksa dan pegawai perempuan di lingkungan Kejari Kota Bekasi. Ia ingin semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar slogan, melainkan mentalitas dalam bekerja.
“Pesan saya untuk rekan-rekan jaksa perempuan dan seluruh perempuan di Indonesia jangan pernah membatasi diri. Jika ada tantangan atau kesulitan dalam pekerjaan, ingatlah bahwa itu adalah proses menuju terang. Teruslah belajar, tingkatkan kompetensi, dan jangan takut untuk mengambil tanggung jawab besar. Jadilah Kartini yang mandiri, yang kehadirannya memberikan manfaat nyata bagi institusi dan masyarakat,” pungkasnya dengan penuh semangat.(Sar/Red)