Ketua Umum PPKL Indonesia Minta Erick Thohir Tegur Komisaris PT Pelni

Info Daerah - Selasa, 13 April 2021 - 17:18 WIB
Ketua Umum PPKL Indonesia Minta Erick Thohir Tegur Komisaris PT Pelni
 ()
Penulis
|
Editor

Ketua Umum Majelis Taklim Hiknatul Huda ini jug melanjutkan jika memang mereka radikal, kenapa tidak diproses hukum. Kenapa hanya dipindahkan yang membuat orang jadi mempertanyakan dasar tuduhan tersebut.

“Penyematan stigma radikal tanpa dasar yang jelas adalah wujud nyata sikap Islamophobia. Ironisnya, Islamophobia ini justru terjadi di perusahaan negara yang seharusnya jauh dari intrik dan sentimen politik,” tandasnya.

Lanjut Huda, tentu ini menunjukkan ada masalah serius dalam hal penunjukan pejabat-pejabat BUMN saat ini. Menurutnya, Kementerian BUMN tidak boleh membiarkan sikap Islamophobia semacam itu. Menteri BUMN Erick Thohir harus tegur komisaris tersebut karena tindakannya bisa memancing reaksi negatif yang tidak diharapkan.

“Sebagai wakil pemerintah di BUMN, seorang komisaris mestinya dibekali dengan ‘attitude’ sebagai pejabat publik sehingga tidak bisa sembarangan berbicara dan bertingkah di depan umum,” terangnya.

Karena itu, Komisaris BUMN mestinya direkrut dari kalangan profesional, birokrat, atau orang-orang yang kompetensinya jelas bukan direkrut dari kalangan ‘buzzer’. Dia menyayangkan PT Pelni malah menjadi obyek perhatian publik bukan karena prestasi atau capaiannya tapi karena ada komisarisnya yang mengidap Islamophobia.

Dia menilai sikap fobia terhadap Islam biasanya diidap oleh orang-orang yang kemampuan literasinya miskin dan dangkal. Dia tidak memahami ajaran Islam atau dia tidak mengenal umat Islam dengan baik.

“Akibat dangkalnya pemahaman tersebut, dia jadi gampang memberikan stigma. Menurut saya, sangat berbahaya jika BUMN dihuni oleh pejabat-pejabat yg dangkal pemahaman kemasyarakatannya semacam itu,” tuturnya.

Apalagi, kata Gus Huda, secara garis besar akademik sikap “radikal” bukanlah bentuk kejahatan. Intoleransi, serta terorisme memang adalah bentuk kejahatan. Tetapi, menyamakan “radikal” dengan “intoleransi”, atau “terorisme” jelas sebuah kesalahan. Dia menyebutnya sesat pikir.

Seraya menambahkan hadits yang berkenaan pemimpin yang mengemban tugas amanah dan tidak mempersulit bawahannya, sebagaimana yang berbunyi.

“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia, dan siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia,” (HR. Muslim dan Ahmad). (GUN)

Halaman:
1
2

Tinggalkan Komentar

Close Ads X