“Dengan cara meneladani jasa pahlawan, budaya lokal dan nusantara, menghargai antara suku bangsa itu sudah menjadi alat perjuangan di masa sekarang ini.
Tidak hanya itu, rasa toleransi terhadap sesama umat beragama, dan Kota Bekasi harus di tumbuhkan,” pesannya.
Senada dengan Rahmat,Husnul mengatakan, masyarakat Indonesia jangan sampai melupakan perjuangan para ulama dalam berjuang kemerdekaan Indonesia.
“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang kerap di ucapkan Soekarno.
Namun, saya memiliki semboyan lain yakni jas hijau, jangan sekali-kali menghilangkan sejarah ulama,” ujarnya.
Cucu KH Noer Ali itu menceritakan, Sang Kakek mendirikan pesantren di kampung halamannya setelah pulang dari Makkah pada tahun 1940.
“Hal ini(pendirian pesantren) bertujuan untuk memajukan umat dari keterbelakangan yang mereka alami.
KH. Noer Ali berkeyakinan bahwa kemajuan umat tidak dapat di capai kecuali hanya dengan pendidikan,” ceritanya.
“Saya sangat merasakan bagaimana kakek mendidik cucunya, terutama dalam membaca Al-Qur’an,
pendidikan itu penting, di tambah peran orang tua dalam mendidik, mengayomi dan membina,” imbuhnya.
KH. Noer Ali juga berkeinginan membentuk “kampung surga” yakni kampung yang anggota masyarakatnya mandiri secara ekonomi,
dan secara agamis masyarakat bersandar kokoh kepada akidah, syariah dan akhlak.