Kegiatannya adalah mengedukasi masyarakat cara memilah sampah dari rumahnya masing-masing. Jadi sampah sudah dipilah sesuai dengan jenisnya dari rumah.
“Masyarakat itu sendiri kemudian kita fasilitasi ataupun membuat sebuah fasilitas yang namanya bank sampah, itu masyarakat datang ke kita untuk melakukan kegiatan penimbangan sampah,” tambahnya.
Sebelumnya dilakukan juga sosialisasi ke masyarakat, mengenalkan lembaga bank sampah kemudian mengedukasi masyarakat.
Dan edukasi ini menjadi PR besar pihaknya karena banyak masyarakat belum paham konsep peduli lingkungan atau soal memilah sampah dari rumah.
Setelah diedukasi, dilakukan mapping potensi dari ribuan penduduk dan setelah dilakukan perhitungan penduduk bisa menghasilkan sampah kurang lebih 3,5 ton perhari,
tapi dari ribuan jumlah penduduk saat ini jumlah nasabah yang terhimpun di bank sampah ini kurang lebih baru 600 sejak berdirinya bank sampah di tahun 2019.
Asep menekankan perlunya menjalin kemitraan dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah terutama soal pengelolaan sampah di wilayah tersebut karena merupakan wilayah wisata.
“Nah ini beberapa hal yang memang jadi catatan buat kita bank sampah ini perlu kerjasama ataupun bermitra dengan semua stakeholders dari mulai masyarakat,
pemerintah terlebih di wilayah kami merupakan wilayah wisata yang mana memang banyak pengunjung wisatawan wisatawan dari lokal dan internasional dan nasional dan disayangkan kenapa jadi pengelolaan lingkungan utamanya sampah itu masih minim sekali,” katanya.
Selain bank sampah, masyarakat juga diedukasi soal produk turunan sampah daur ulang atau non daur ulang.
“Kita membuat inovasi-inovasi, membuat produk turunan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Kita coba bentuk dalam sebuah kerajinan-kerajinan ataupun produk turunan.