Jayagati Ingatkan Risiko Ekonomi dari Koperasi Desa Merah Putih

Info Daerah - Senin, 9 Maret 2026 - 20:34 WIB
Jayagati Ingatkan Risiko Ekonomi dari Koperasi Desa Merah Putih
 (Info Daerah)
Penulis
|
Editor

INFODAERAH.COM. KAB.LEBAK – Organisasi masyarakat Jaringan Pemberdayaan Warga Sejati (Jayagati) meminta pemerintah mengkaji ulang rencana pendirian Koperasi Desa Merah Putih di Lebak. Organisasi ini menilai program tersebut perlu analisis yang matang agar tidak menimbulkan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Pandangan itu muncul dalam diskusi dan buka puasa bersama yang digelar di sekretariat DPP Jayagati di Kampung Barangbang, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (8/3/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri anggota Jayagati dari berbagai dewan pimpinan cabang (DPC) di Kabupaten Lebak.

Jayagati Soroti Dampak Program Koperasi Desa Merah Putih

Wakil Ketua Umum Jayagati, Achmad Syarif, menilai konsep Koperasi Desa Merah Putih di Lebak memiliki kemiripan dengan program Koperasi Unit Desa (KUD) yang berkembang pada masa Orde Baru.

Menurut dia, program KUD pada masa lalu tidak semuanya berhasil berkembang.

“Program itu pernah dijalankan sebelumnya. Banyak KUD yang tidak berkembang dan sebagian lahannya bahkan menjadi sengketa,” kata Syarif.

Selain itu, ia menilai tidak semua desa di Lebak memiliki kesiapan lahan hibah untuk pembangunan koperasi tersebut.

“Tidak mudah mencari lahan hibah saat ini. Apalagi pembangunan proyeknya bukan oleh kepala desa, tetapi oleh perusahaan yang ditunjuk pemerintah pusat,” ujarnya.

Syarif juga mengingatkan agar program Koperasi Desa Merah Putih di Lebak tidak menimbulkan persaingan usaha yang merugikan masyarakat.

Jika koperasi membuka usaha ritel atau apotek tanpa kajian pasar yang jelas, usaha tersebut berpotensi mengganggu pelaku usaha lokal.

“Segmen pasar harus jelas. Program peningkatan ekonomi jangan sampai justru menurunkan pendapatan warga yang sudah lebih dulu menjalankan usaha,” katanya.

Peserta diskusi lainnya, Amsar Japung, menilai setiap rencana usaha dalam program koperasi harus melalui survei dan pemetaan potensi desa.

Menurut dia, analisis pasar penting untuk menentukan jenis usaha yang tepat.

“Harus ada survei potensi desa, melihat segmen pasar, lalu menentukan usaha yang sesuai,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keberadaan salah satu gerai koperasi di Rangkasbitung yang lokasinya berhadapan langsung dengan minimarket waralaba seperti Alfamart dan Indomaret.

Menurut Amsar, persaingan dengan jaringan ritel besar tersebut tidak mudah karena keduanya memiliki sistem bisnis dan kekuatan merek yang kuat.

“Kalau harus bersaing langsung dengan minimarket besar, tentu berat,” katanya.

Sementara itu, Bendahara Umum Jayagati Ikwan mengatakan kegiatan buka puasa bersama juga menjadi momen mempererat silaturahmi antaranggota.

Selain itu, organisasi memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengevaluasi peran sebagai kontrol sosial.

“Momentum Ramadhan bukan hanya untuk berbuka bersama, tetapi juga untuk mengevaluasi tugas organisasi sebagai kontrol sosial,” ujarnya.

Ke depan, Jayagati berencana mengawal sejumlah program pemerintah di daerah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih di Lebak.

“Kami ingin memastikan program pemerintah berjalan baik dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya. (Red)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X